Aplikasi Visa Schengen

Standard

image

Jika tulisan terakhir di blog ini saya masih di Indonesia, namun kali ini saya sudah berada di tempat suami; Koblenz, Jerman 🙂

Namun, perjalanan bisa sampai kesini tidaklah mudah. Banyak sekali hal2 yg perlu dipersiapkan jauh2 hari. Tujuan dari men-share tulisan ini juga ucapan terimakasih saya pada blogger2 diluar sana yg telah sharing2 info nya ttg pengalaman dan lika-liku apply visa Schengen yg Subhanallah luarrr biasa bgt, haha.
Nah, kali ini saya mau cerita tentang apa itu Visa Schengen, tujuannya, bagaimana cara aplikasinya tanpa bantuan agen, dsb.
Saya yakin, banyak dari teman2 sudah tahu lah ya Visa Schengen itu apa. Visa Schengen penjelasan umumnya adalah visa ijin tinggal sementara (kurang dari atau sama dengan 3 bulan) dari negara2 Schengen (European countries). Apa saja negara2 Schengen itu?

Belgia, Denmark, Jerman, Finlandia, Perancis, Yunani, Italia, Luxemburg, Austria, Portugal, Belanda, Norwegia, Spanyol, Swedia, Islandia, Malta, Estonia, Hongaria, Latvia, Lithuania, Polandia, Slovenia, Slowakia, Ceko, Swiss, dan Liechtenstein.

Jadi, sekali kita apply visa Schengen dari salah satu dari negara tersebut, kita bebas masuk dan keluar dari negara2 Schengen selama tidak lebih dari 3 bulan (multiple entry).
Pada kasus saya, saya ingin mengunjungi suami (WNI) yg sedang studi di Jerman (masuk kategori wilayah Schengen) selama (ngepasss banget) 3 bulan. Biasanya sih, orang2 apply visa Schengen itu buat tujuan wisata (turis) jd biasanya juga kemungkinan di approve-nya jauh lebih besar, karena tujuan wisata biasanya sih tidak ngepas seperti saya, ngepasss 3 bulan. Hehehe. Berhubung negara yg saya ingin kunjungi dan tinggali lama (selama masa 3 bulan) adalah Jerman, maka saya harus apply ke Kedutaan Besar Jerman di Jakarta.
Bagaimana proses aplikasi visa Schengen?
1) Membuat janji.
Jadi gak bisa datang ujug2 ke kedutaan terus apply ya, kita musti bikin appointment dulu. Saran terbaik saya ambil janji di waktu pagi hari sekitar jam 9 pagi. Jadi kita akan lebih prepared dan tidak tergesa-gesa. Link-nya dapat diklik disini. Oya, jgn lupa untuk men-print form appointment kita, karena kita akan dicek petugas bahwa kita benar telah membuat janji.
2) Setelah buat janji, make sure kita mengisi form aplikasi visa Schengen. Klik disini.
Isi form sebaik mungkin, jgn ada yg dikosongkan. Jika ada poin yg tidak relevan, baiknya di berikan notes NA (jgn dikosongkan), dan jgn ada tambahan attachment lain untuk penjelasan di form visa, semua data harus ditulis di dalam form SAJA.
3) Tujuannya apa? Berhubung dalam kasus saya adalah mengunjungi suami yg bukan warga negara EU, maka saya harus mengikuti aturan tata cara aplikasi Visa Kunjungan. Link-nya disini.
Tetapi buat teman2 yg memiliki tujuan berbeda, seperti turis, kurus bahasa Jerman (durasi kurang dari 3 bulan), misi budaya, ataupun bisnis; panduan lengkapnya dapat langsung mengakses website Deutsche Botschaft Jakarta.
4) Foto 2 lembar;
1 lembar utk di tempelkan pada formulir visa dan 1 lembar lainnya kita selipkan pada formulir visa kita. Nah ini juga ada ketentuannya loh. Panduan detailnya dapat dilihat disini. Pastikan kita mengikuti aturan yg ada ya.
5) Passport yang masih berlaku paling tidak 6 bulan saat kita apply visa.
Passport lama dan baru harus dibawa yg aslinya yaa. Photocopy passport baru kita bagian depan dan belakang. Pastikan juga alamat yg tercantum pada bagian belakang passport kita adalah alamat kita sekarang, kalau tidak nanti kita akan diminta untuk ke Direktorak Jendral Imigrasi untuk pencantuman alamat terbaru kita dan ini makan waktu, tenaga, dan duit lagi (kayak saya! hikss).
6) KTP asli dan photocopy (ini optional aja sih, tapi ya prepared aja lah)
7) Buku Nikah asli dan photocopy (kasus saya, mengunjungi suami, jd ini dokumen wajib).
8) Kartu Keluarga asli dan photocopy (saya mencantumkan KK walaupun kami belum memiliki anak. Jadi KK yg saya bawa asli dan photocopy-nya adalah KK saya dan KK suami).
9) Asuransi Perjalanan asli dan photocopy.
Nah ini yg lumayan bikin kantong bolong. Untuk masuk ke wilayah Schengen, kita di wajibkan memiliki asuransi perjalanan yg agennya hanya yg diberikan wewenang oleh Kedutaan Jerman. Untuk lebih detailnya bisa klik disini. Pengalaman saya kemarin, saya mengambil travel insurance dari AXA Mandiri, untuk 90 hari perjalanan saya harus mengambil yg Platinum karena itu sesuai dgn ketentuan covered insurance dari Kedutaan dan untuk itu saya harus membayar USD160. Ini sih tergantung lamanya visit kita ya, bisa di cek harganya disini.
10) Reservasi Tiket.
Karena selalu ada kemungkinan visa kita ditolak, jd sebaiknya jgn membeli tiket perjalanan dulu sebelum kita sudah mendapat visa. Kita bisa datang ke agen travel, minta untuk dibuatkan reservasi tiket untuk kebutuhan aplikasi visa. Kemarin saya dan suami mengambil jasa dari Golden Rama Travel untuk tiket perjalanan kami (bukan iklan, cuma berbagi pengalaman aja, hehe. Bisa di klik disini jika ingin menghubungi mereka).
11) Buku tabungan (dan surat referensi dari bank kita menabung, optional ini sih. Saya mencantumkannya tapi akhirnya malah gak diambil sama orang kedutaan, hikss. Padahal biayanya lumayan) asli dan photocopy.
Membaca pengalaman di blog2 lain, masalah buku tabungan ini emang cukup crucial ya. Gak ada statement khusus sih dari kedutaan brp jumlah uang kita ditabungan sebagai bukti penjamin kita bisa di approved visanya. Apalagi kasus saya, saya dibiayai full oleh pengundang (yaitu suami dgn bukti2 yg nanti saya jabarkan). Tapi tetap saja, mereka harus mengecek apakah saya eligible untuk hidup di negara Jerman. Saran, pastikan jgn ada nominal yg masuk secara “breg” atau lumpsum di akun tabungan kamu, bisa mencurigakan soalnya. Jadi plan your trip jauh2 hari buat memastikan uang yg ada ditabungan cukup untuk membuat orang kedutaan percaya untuk ngabulin visa kita, hehe.
*tambahan: sebagian orang juga mencantumkan bukti slip gaji 3 bulan terakhir, bagi yg bekerja.
12) Bukti akan kembali ke Indonesia.
Nah ini nih yg gak kalah penting. Berhubung visa Schengen itu cuma 90 hari maksimalnya dan kita musti cabut dari wilayah Schengen sebelum masa visa kita habis, jd pastikan kita punya bukti2 yg kuat bahwa kita akan balik ke Indonesia. Sebagian orang menggunakan employment letter dari kantor dimana kita bekerja yg menyatakan kita karyawannya dan kita masih punya tanggung jawab dikantor, jd pasti kita akan balik. Nah berhubung saya sudah resign dari tempat saya bekerja, jadilah saya mencantumkan posisi employment menjadi ibu rumah tangga. Tapi bagaimana dgn bukti akan balik ke Indonesia? Saya mencantumkan Letter of Acceptance dari kampus tujuan saya (karena saya akan berangkat studi September ini dari Jakarta) dan Letter of Guarantee dari beasiswa saya bahwa saya akan pulang sesuai waktu yg ditentukan karena saya harus mengurus visa belajar dan saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan beasiswa yg saya terima. Nah kasus saya agak jarang, maka kemarin agak sedikit jd masalah. Tapi Alhamdulillah at the end semua clear…
13) Surat Terlegalisir dari Pengundang dan Jaminan Keuangannya.
Ini namanya Verpflichtung. Suami (pengundang) mengurus surat ini dikantor imigrasi kota Koblenz dgn bukti keuangan minimum di tabungan ada EUR5000. Kami jg mencantumkan Letter of Acceptance dari kampus suami dan Letter of Guarantee suami dari beasiswa sebagai tambahan bukti bahwa suami dapat membiayai saya (pihak terundang) untuk 3 bulan visit di Jerman.
*tambahan: Verpflichtung, harus dibawa yg asli dan photocopy. Jd pastikan pihak pengundangmu mengurusnya jauh2 hari, karena kalau mepet dan harus dikirim segera ke Indonesia, biaya DHL 3 hari Jerman-Indonesia (Jakarta) bisa mencapai 1.5juta rupiah!! (seperti kasus saya, hikss).
14) Dokumen identitas pengundang
Saya juga menyertakan beberapa lagi dokumen pengundang, yaitu: photocopy (scan) kartu residen suami disana dan pernyataan surat apartemen (tempat tinggal suami). Ini diluar dokumen lainnya seperti; KK suami, LoA dan LoG suami, dan photocopy buku tabungan suami.
Nah, setelah dokumen siap.. barulah kita bisa datang ke kedutaan di hari kita telah membuat appointment. Usahakan berpakaian rapih, celana jeans boleh kok; dan datang awal, jgn mepet waktu janji kita.
Saat nama kita dipanggil nantinya, kita akan ditanya, tujuan kita ke Jerman apa, bertemu siapa, dsb. Pertanyaan2 general yg harus serius tapi santai menjawabnya. Lalu, kita akan diminta untuk fingerprint test dan setelah itu membayar Visa Fee sebesar EUR60. Pastikan kita membawa uang cash dan rupiah.
Jika semua lançar, visa kita akan jadi selama 3 hari kerja. Jd sebelum pulang, kita akan diberikan tanda bukti pengurusan visa dan bukti pembayaran visa. Serta, notes kapan pengumuman visa kita dapat diambil.
Saran terbaik saya adalah:
1) Pastikan semua dokumen lengkap selengkap-lengkapnya. Jgn ada yg kurang, baik asli maupun photocopy nya.
2) Rencakan semuanya jauh2 hari agar tidak mepet dan terburu-buru.
3) Perbanyak doa, dzikir dan sedekah agar permohonan visa kita dapat di approved! :))
All the best, semoga sharing says bermanfaat.
-Ria-

 

Advertisements

Tidak Jerman, Inggris Pun Jadi (The End)

Standard

—————————-

Ditengah mencari informasi tentang les GMAT, saya yang juga gabung di group Calon Penerima Beasiswa LPDP, mendapat informasi tentang salah satu calon awardee yang bekerja di lembaga official representative untuk kampus2 Australia, New Zealand, dan UK. Entah ini dorongan hati atau memang sudah jalan dari Allah ya, saya bergegas menghubungi contact personnya yaitu Mbak Tara. Saya menjelaskan keadaan dan keinginan saya untuk segera mendapatkan kepastian sekolah (LoA). Alhamdulillah, Mbak Tara sangat paham dan memberikan saya masukan untuk mencoba apply ke beberapa kampus di ketiga negara tersebut. Tapi sengaja saya me-limit ke UK saja karena tujuan utamanya adalah agar bisa menyusul suami (sambil studi). Mbak Tara men-suggest beberapa kampus di UK, tetapi dengan berbagai pertimbangan akhirnya saya memilih untuk mencoba apply ke 3 universitas yaitu, Nottingham University (pilihan 1), Newcastle University (pilihan 2), dan Queen’s Belfast University (pilihan 3). Malah, setelah apply ke-3 kampus tersebut (via Mbak Tara), saya nyoba2 sendiri ke satu kampus lagi (aplikasi online), yaitu kampus Cardiff University.

Dari ke-4 kampus tersebut, hanya Nottingham yg saya harus keluar uang untuk biaya application fee. Dan semua kampus UK yg saya apply tidak perlu mengirimkan dokumen melalui pos. All are done by online system. Praktis dan hemat (tidak seperti sebelumnya, huhu). Jujur, saya sempat pasrah banget apakah ada rizki saya untuk dapat LoA dari kampus2 UK yg saya daftar ini, mungkin karena masih agak sedih kasus yang kemarin yaa (red: penolakan bertubi-tubi T__T). Cuma yasudahlah, Bismillah saja, ini bagian dari ikhtiar.

FYI, dari ke-4 kampus UK tersebut, sejujurnya saya memprioritaskan Nottingham, karena rangkingnya yang paling tinggi. Namun, di Nottingham sendiri saya belum ada teman dari grup LPDP tidak seperti kalau ‘semisal’ saya keterima di Newcastle (Mbak Tara jg akan kesana). Menurut Mbak Tara, di NCL (panggilan buat Newcastle Uni), kotanya kota besar, kampusnya cooperative banget sama student Indonesia, dan banyak orang Indonesia-nya, haha. Jadi ya gak begitu shock culture banget lah inshaaAllah, beda 180 derajat dengan kondisi di kampus suami (red: Universitat Koblenz, Germany). Maka saya hanya bisa pasrahkan semua ke Yang Maha Kuasa, akan kemana saya bersekolah. Dibenak saya, yang terpenting dari semua ini adalah saya sudah berusaha yg optimal dan berdoa ke Allah agar Allah memudahkan jalan saya dan memberikan hasil yang terbaik menurut-Nya.

Dan…… setelah proses yang cukup panjang sudah saya lalui (dengan berderai-derai air mata pula) saya mendapat “bertubi-tubi” email lagi, tapi kali ini versi bahagianya, huehehe… yakni Unconditional Offer Letter, menandakan saya diterima disana, Subhanallah Walhamdulillah…..

Email pertama datang dari Belfast..

Saat mendapat offer letter dari Belfast, saya sangat bersyukur dan saya semakin bersemangat inshaa Allah ada rizki saya disini (baca: UK). Karena posisi Belfast yang di Irlandia (tapi masih masuk wilayah UK) dan rangkingnya yang dibawah Uni Bonn (kampus tujuan awal saya waktu daftar LPDP) saya menjadikannya cadangan saja dulu, hehe.

Dan, Alhamdulillah tidak lama setelah mendapat email dari Belfast, saya kembali mendapat Unconditional Offer Letter, kali ini dari Newcastle Uni, Alhamdulillah… ^^

Sungguh kesabaran, ikhtiar tanpa putus asa, juga yang paling penting doa-doa ditiap sujud memang membuahkan keindahan di akhirnya. Sejujurnya, saat mendapat email ini dari Ncl, saya sudah sangat bahagia. Kampus Ncl reputasinya tidak jauh dari Nottingham dan Business School-nya masih salah satu yang teratas di UK. Namun, saya masih menunggu kabar dari Nottingham sebetulnya sih pada saat itu siapa tau ada kesempatan disana, hehe.
Ditengah waktu menanti Nottingham, saya iseng2 apply ke Uni Cardiff (rangking Cardiff masih dibawah Ncl, tapi ya saya coba saja). Dan, gak begitu lama saya dapat kabar bahwa saya diterima (dapat Offer Letter-nya) disana. Ya Allah.. Subhanallah…

Di poin ini, sungguh rasa syukur saya terus panjatkan kepada Sang Pencipta yang telah menjawab doa2 saya, suami, dan orang tua kami. Walaupun saya juga masih mengharapkan kabar baik dari Nottingham, saya mendapat email cukup positive namun bukan berupa Offer Letter. Di email tersebut, mereka mengatakan bahwa saya lolos seleksi awal dari di rekomendasikan oleh tim Qualified Admissions.

Nah, karena saya masih harus menunggu lagi, sedangkan saya menginginkan segera ada kepastian tentang sekolah saya, saya berdoa agar Allah memberikan yang terbaik. Entah bagaimana rasanya kok jalan saya di UK, khususnya di Ncl ini dipermudah oleh-Nya. Mbak Tara juga sudah mencarikan accomodation untuk kami disana yang bisa dibilang sangat hemat untuk kantong saya, karena saya tidak perlu ambil In-campus Dormitory. Ada kawan Indonesia di Ncl yang memiliki 2 kamar lebih dirumah yang ia sewa, pas banget untuk kebutuhan saya dan Mbak Tara. Maka, dengan Basmallah dan juga komunikasi dengan suami dan orang tua, saya memutuskan untuk mengambil Offer dari Newcastle University. Alhamdulillah……
Proses selanjutnya, saya harus mengurus administrasi ke LPDP tentang perpindahan kampus (detailnya di tulisan selanjutnya ya). Alhamdulillah kurang lebih 2 minggu saya sudah mendapatkan kabar positive, bahwa pengajuan saya diterima. Ya Allah, terima kasih…. *terharu 🙂
Tahap berikutnya adalah mengajukan permintaan pembuatan Letter of Guarantee (LoG) karena Ncl meminta saya membayar deposit fee (which I couldn’t afford it) atau dapat digantikan dengan semacam Sponsorship Letter (dalam hal ini LoG). Dan lagi2, Allah Maha Baik, saya sangat dimudahkan dalam proses ini. Tidak lama setelah pengajuan, saya mendapatkan email LoG saya telah siap. Wuih! Alhamdulillah…
Beginilah kira2 yg disebut Surat Sakti Beasiswa “LoG”
Kemudian, right after saya dapat LoG, saya mengabari Mbak Tara dan kemudian mengirimkannya ke pihak Ncl (by email), bahwa saya mendapat financial assistance dari Indonesia Endowment Fund. Baru setelah itu, kurang lebih 2-3 mingguan, saya mendapat balasan dari Ncl tentang Confirmation of a Place to Study atau “surat sakti” berikutnya yaitu Letter of Acceptance (LoA). Subhanallah walhamdulillah… :))
Surat Sakit “Letter of Acceptance” (LoA)
Alhamdulillah…. dengan begitu positive lah tujuan sekolah saya. Sungguh teman, tiada tempat untuk orang beriman untuk berputus asa. Dan, “nikmat Tuhan manakah yang engkau akan dustakan?“.
Alhamdulillah ya Allah, cannot be thankful anymore. YOU are The Greatest. I know this is the best from YOU, and I’m so grateful that you made me through all the process till I found that YOU are the answer. Thank you, Allah.
Begitulah, kira2 perjalanan dan sedikit perjuangan saya dan suami kemarin. Kami melalui upside dan downside bersama, jatuh kemudian bangkit lagi, gagal lalu berhasil… semua proses. Tidak ada kata2 lain yg dapat terucap kecuali rasa syukur tiada hingga.
Semoga sedikit pengalaman saya kemarin dapat menginspirasi dan memberikan manfaat buat teman2 yg sedang berproses juga yaaa… 
Salam.
-Ria-

Tidak Jeman, Inggris Pun Jadi (Part 3)

Standard

———————————

Pertengahan November 2013, saya resmi menjadi Insan LPDP RI batch 7. Suatu hal luar biasa yang Allah berikan di hidup saya. Beneran gak pernah menyangka betapa Allah Maha Kuasa atas hidup hamba-hambaNya yang mau berusaha, melibatkan-Nya di setiap langkah. Allah is The Greatest.

Sebagai awardee yang belum memiliki LoA, kami diberikan waktu 1 thn untuk mencari dan mendapatkan LoA untuk kemudian dapat menandatangani kontrak beasiswa. Dan sebetulnya, dari sebelum suami berangkat dan sebelum saya PK, kami telah mengirimkan 4 aplikasi ke 4 kampus di Jerman. Saya applied Master program untuk bidang studi Ekonomi (Keuangan) ke Uni Mainz, Uni Goettingen, Uni Kiel, dan Uni Regensburg. Kemudian setelah PK, saya jg apply ke Uni Marburg dan Uni Kassel. Jadi total 6 kampus saya apply untuk bisa kuliah (nyusul suami) ke Jerman untuk Summer Semester 2014. Dan menurut informasi di website mereka, saya baru akan mendapat konfirmasi kepastian masuk atau gaknya sekitar akhir Januari 2014. Jadi kesabaran juga sangat dituntut dalam proses seperti ini.

Dan tidak disangka-sangka, baru awal Desember 2013, saya sudah mendapat email balasan dari Uni Goettingen. Balasan yang membuat saya “patah hati” dan cukup down juga. Main reason dari Goettingen adalah karena background mata kuliah yang sudah saya ambil selama S1 tidak seluruhnya match dengan requirement mereka 😥

Setelah itu, saya mendapatkan email dari Uni Mainz yang menyebutkan dokumen yg telah saya kirimkan via post tidak sampai ketangan mereka.
Entah bagaimana, tapi saya telah men-track nya (saya kirim via DHL) dan telah recieved dan signed oleh orang Mainz. Sedih banget lah.
Kabar buruk lainnya datang dari Uni Regensburg yang menyebutkan saya tidak bisa masuk kriteria mereka karena tidak ada proof bahasa Jerman. Ini aneh dan nyesek banget!! Di websitenya, mereka bilang ini program semua dalam bahasa Inggris dan tidak menyebutkan adanya persyaratan mutlak harus ada bahasa Jerman. Eh saya udah apply (keluar biaya dsb), malah diminta bahasa Jerman, huhuhu.. sedihnyaa 😥
Penolakan ke-4 datang dari Uni Kiel (yg akhirnya menjadi titik tolak saya). Subhanallah.. penolakan datang bertubi-tubi, lumayan buat saya nangis bombay ke si mas, huhuhu..
Sebagian orang mungkin akan berpikir kenapa saya seperti sudah panik padahal waktu saya untuk mendapatkan LoA masih lama bgt (lulus PK November 2013, maka due date LoA adalah November 2014). Tapi ada satu hal yg membuat saya HARUS segera mendapatkan kepastian sekolah adalah berjauhan dengan suami dengan belum ada kepastian kapan saya akan menyusulnya adalah hal yang menyakitkan!! Duh itu tuh yg membuat hari2 saya di Desember awal2 kemarin agak2 gloomy. Bagaimana gak sedih?? Aplikasi studi ke Jerman bisa dibilang cukup mahal, teman2. Karena:
  1. Beberapa kampus meminta Application Fee untuk memproses aplikasi kita. Contohnya: Uni Mainz minta 50Euro, Uni Kiel malah 68Euro, dan Uni Kiel 15Euro.
  2. Jerman masih rada konservatif sodara2, sudah aplikasi online, suruh ngirim via post jg. Dan ngirim via post adalah sangat mahal 😦 Sengaja saya pilih DHL, karena sudah trusted lah, tapi ya itu harga menentukan kualitas. Sekali ngirim 1 aplikasi ke 1 alamat di Jerman, rata2 saya harus ngeluarin simpanan gaji sebesar 500ribu. O-em-ji banget T___T

Selain sedih karena mahalnya biaya aplikasi yg sudah dikeluarkan juga karena beberapa kampus lainnya nge-PHP-in saya, hehe. Bilang di email sudah lolos di Uni-assist, tapi ternyata belum ada kabar juga dari kampusnya. Meaning, most probably saya ditolak (lagi!). Tapi Alhamdulillah, walaupun sempat beraaattt banget dijalaninnya (repost: penolakan bertubi-tubi) orang tua, ibu mertua, dan suami tercinta tidak henti-hentinya memberikan doa dan dorongan agar bangkit.

Kemudian saya mencoba bangkit. Saya terus membakar semangat dalam hati (*agak lebay) bahwa ORANG BERIMAN, TIDAK AKAN PERNAH BERPUTUS ASA!!. Dan Alhamdulillah… beberapa hari kemudian, ada jalan dari Allah supaya saya gak manyun2 lagi nerima penolakan bertubi-tubi, hehe.
Jadi ceritanya ada teman di grup angkatan LPDP memberitahu ada official representative dari beberapa kampus di Belanda, seperti di Uni Groningen dan Uni Wageningen. Sudah nanya2 tuh, tapi ada satu masalah. Untuk jurusan saya, mereka meminta sertifikat GMAT (dgn score aman 600). Pengecualian buat anak UI, ITB, dan UGM (klo gak salah) sebagai partner kampus dari Groningen dan Wageningen. Nah, saya gimana nasibnya??! Harus tetap pake GMAT!! Sedangkan saya, seumur-umur belum pernah nyentuh GMAT sama sekali. Sangat meragukan diri sendiri akan bisa mencapai score yg diminta padahal gak kenal banget sama GMAT itu apaan. Tapi saya tetap memasukkan kedua kampus tersebut sebagai list tujuan kampus saya.
Bahkan sudah sampai ganti plan loh. Tadinya, suami meminta saya mulai Januari 2014 untuk ikut kursus super intensive bahasa Jeman di Goethe Institut Jakarta, agar bisa langsung achieve level A1+ pas kuliah di Jerman. Namun takdir Allah berkendak lain, rizki saya sepertinya bukan di negara itu. “Apa Belanda yaa? Bisa jadi, deket jg lah dari Jerman. Masih bisa ditempuh pakai train“. Begitu pikiran saya saat itu.
Jadilah saya nyari2 info kursus GMAT di Jakarta dan estimasi biaya-biayanya yang Subhanallah T__T. Maka, (tadinya) suami dan saya sepakat memutuskan untuk pindah haluan, yaitu ke Belanda. Dan suami juga orang tua (Papa) sangat mendukung saya untuk les GMAT, dimana saya harus belajar lagi dari nol besar… huaaaa… :((
Bersambung……….

You and Me (Shane Filan)

Standard
A song specially dedicated to my dear husband.. I just want you to know that I love you unconditionally, no matter what.
Much love.

YOU AND ME

Everyday I look at you and I can’t believe the view
Lying there next to me, it always feels brand new
Busy streets, packed out bars, taxi cabs and cars
Life is fast, but we last
Still together, what we have is beautiful
If I lost you then I’d lose it all,
Cos this world would be
Empty without you
It scares me that this life would mean nothing without you
Someday we’ll have to say goodbye,
I need to let you know
That I will never try to fill the space between
It’ll only ever be
You and Me
Candle light, a glass of wine
A dinner made for two
All the noise, of the city I drown it out for you
Then we kiss as we dance, I hope this feeling lasts forever
Life is fast, raise a glass we’re still together
And you’re still so beautiful
If I lost you then, I’d lose it all
Cos this world would be empty without you
It scares me that this life would mean nothing without you
Someday we’ll have to say goodbye
I need to let you know that I
Will never try to fill this space between
It’ll only ever be
You and Me
And you’re still so beautiful
If i lost you then, I’d lose it all
Cos this world would be,
Empty without you
It scares me that this life would mean nothing without you
Woah someday we’ll have to say goodbye
I need to let you know that I
Will never try to fill the space between
It’ll only ever be
You and me

Tidak Jerman, Inggris Pun Jadi (Part 2)

Standard

………….

Dibandingankan proses seleksi suami yang cukup makan waktu berbulan-bulan, sebetulnya proses saya jauh lebih cepat. Kalau tidak salah, kami menyelesaikan dokumentasi beasiswa saya sekitar akhir Juli atau awal Agustus 2013. Tidak seperti waktu membereskan persiapan studi suami, saya cenderung lebih pasrah dan tawakal apakah saya akan lolos ke tahap selanjutnya atau tidak. Maka yang saya lakukan hanya kembali menjalani pekerjaan (mencari sesuap nasi dan sekarung emas :-D) sambil senantiasa berdoa semoga diberikan yang terbaik oleh-Nya.

Namun tidak disangka-sangka, dibulan yang sama juga (selang 2 atau 3 minggu saya uploaded semua required dokuments), saya mendapat email balasan bahwa saya lolos tahap administrasi dan masuk ke seleksi wawancara. What a surprise! Saya bersyukur dan semakin bersemangat bahwa inshaa Allah ada rizki saya mendapat beasiswa, menyusul studi suami ^^

Undangan Seleksi Beasiswa
Setelah itu, kami berdua sama2 mempersiapkan mental dan fisik menghadapi proses interview, hehe. Suami mengatakan bahwa yang terpenting saat wawancara nanti adalah tenang saat menjawab, yakin pada jawaban kita, dan tunjukan kemampuan dan prestasi2 kita, baik itu akademik dan non-akademik (anyway, saya sudah pernah sedikit membahas wawancara beasiswa LPDP ditulisan saya sebelumnya ya, kamu bisa cek disini).
Proses wawancara diadakan pagi hari. Semua participant dikelompokan ke dalam 10 kelompok (kalau gak salah), dan saya masuk dalam kelompok 8. Yang mengejutkan adalah, saya masuk di urutan NOMOR 1. Teman tahukah artinya?? Artinya saya menjadi peserta wawancara pertama di kelompok saya di jam 8.30 (30 menit setelah interview dibuka oleh tim LPDP). Subhanallah… Dengan membaca doa juga dzikir2 tiada henti, saya masuk ke dalam ruangan wawancara. Tidak ada lagi yg saya pikirkan, kecuali mengingat bahwa ini bagian dari ikhtiar saya dan suami untuk sekolah dan kami yakin “bagi sesiapa yang mengambil jalan menuntut ilmu, Allah akan memudahkannya dan membukakan pintu-pintu kebaikan untuknya“.
Overall, saya merasa sudah memberikan yang terbaik, menjawab sebaik mungkin, dan menunjukkan kepada tim penyeleksi bahwa saya kandidat yang tepat untuk dipilih sebagai awardee. Namun lagi dan lagi, saya pasrahkan semua ke Yang Maha Kuasa. Saat interview pun, suami dengan setia mengantar saya, menemani dan menunggu saya di tempat interview dengan tidak henti-hentinya mendoakan istri tercintanya agar tenang saat di wawancara (so sweet ya? huehuehue..). Glad to be part of his life :))
Menunggu hasil seleksi kedua, saya kembali bekerja sembari mempersiapkan keperluan suami untuk keberangkatannya di bulan Oktober 2013. Tapi, tidak lebih dari 2 minggu berselang, saya kembali mendapat email bahwa… saya lolos seleksi interview bersama 67 orang lainnya. Subhanallah walhamdulillah…
Pengumuman Seleksi Wawancara
Kemudian setelah keluar hasil tahap 2, saya diminta via email untuk melengkapi data agar bisa masuk ke dalam daftar seleksi tahap 3 yaitu Program Kepemimpinan (PK) selama 11 hari. Pada saat itu, saya meminta agar dimasukkan PK bulan Oktober 2013, niatnya agar proses ini bisa cepet gitu. “Tapi kuota tidak memungkinkan” (jawab Pak Tino – penanggungjawab PK saat itu – saat saya menanyainya). Jadilah saya masuk PK di bulan November (tgl 6-16) bersama 70-an calon awardee lainnya. Dan, setelah 11 hari kami menjalani PK, Alhamdulillah, kami lulus sebagai awardee LPDP RI angkatan 7. Alhamdulillah.. Can’t be more thankful than this…
Berikut ini, saya upload beberapa foto2 PK saya ya buat semakin menyemangati dan menginspirasi teman2, huehehe..
Welcome to the club 😉
Hari ke-1 PK LPDP 7 bersama Bpk Jusuf Kalla
Tim DEWATA LPDP 7 turun gunung ^_^
Our PK name tags
(note: the destination campus had changed)
Selesai PK…..
Selesainya kegiatan PK, kami resmi menjadi Insan LPDP dan dimulailah pencarian LoA itu bagi saya sampai dengan akhirnya takdir dari Allah berkata lain tentang destinasi sekolah saya…..
Bersambung…………………..

Tidak Jerman, Inggris Pun Jadi (Part 1)

Standard

Halo manteman.. akhirnya saya (Ria) kembali ke laptop untuk merampungkan “niat menulis” dan membagi pengalaman ini ke teman-teman semua.. 😀

Ceritanya, dibagian ini, saya mau men-share cerita saya kemarin, dari mulai persiapan sampai akhirnya tanda tangan kontrak beasiswa LPDP. Semoga pengalaman ini bisa diambil manfaatnya ya, hehe.

Oke, pertama-tama.. semua ini terjadi karena Allah Yang Maha Kuasa (so pasti!) dan suami yg getol dan habis-habisan memperjuangkan saya agar terus semangat apply sekolah dan beasiswanya (yaiya orang duit pas-pasan tapi pengen banget sekolah ke LN). Kalau teman2 menyimak cerita saya sebelumnya, memang saya dan suami sudah mematangkan niat sekolah jauh2 hari sebelum menikah. Tapi pada saat itu, saya masih berpikir, “yang penting Mas dulu yang sekolah, saya gampang lah, utamakan suami“, begitu yg ada dibenak saya. Tapi gak dengan si Mas. Dia kekeh bahwa istrinya harus sekolah lagi. Kayaknya dia gak rela ibu dari anak-anaknya kelak gak Master degree, huehue.. lagipun, dengan sama2 sekolah dan mendapat beasiswa, kami berdua dapat cukup menabung untuk masa depan :-p Maka di “paksa”-nya saya untuk fokus mempersiapkan sekolah ditengah hari2 “kejar setoran” dan persiapan nikah pula.

Niat awal adalah negara Jerman dengan konsentrasi studi Finance (keuangan), karena background S1 saya ada Bachelor of Business, majoring in Finance. Kenapa Jerman?? yaiya dong fellas, kan mau ikut suami ceritanyaa.. hehe. Walopun emang sih agak “weird” juga sekolah Ekonomi/ Keuangan di negara itu, karena ‘trademark’-nya Jerman kalo gak Science atau Teknologi. Cuma saya positive thinking, inshaa Allah ada jalan. Nah, karena suami sudah daftar LPDP duluan, maka saya pun di “cemplungi” untuk ikut juga. Awalnya saya gak pede, tapi karena lagi2 “dipaksa”, maka saya pede-pedein lah diri saya (red: memantaskan diri). Semua persyaratan kami list, dan kemudian muncul berbagai hambatan dan juga solusinya 🙂

Pertama, tentang sekolah mana, jurusan apa, dan semester kapan. Saat pertama kali mendaftar LPDP, suami langsung mengajukan Universitas Bonn (sama seperti pengalaman dia), karena reputasinya yg bagus, masuk list QS dan THE 200 besar dunia, dan lebih penting lagi masuk list LPDP. Saya ikut saja! Jurusan saya daftarkan sesuai minat yaitu ekonomi (keuangan). Nah karena Bonn hanya buka 1x dalam setahun (Winter Semester) maka saya tulis dalam aplikasi beasiswa bahwa saya akan mulia belajar sekitar Oktober 2014. Dengan optimis dan mengucapkan Basmallah, saya apply! Pikiran kami, tidak masalah jika nanti rizki LoA-nya berbeda, yang penting beasiswa sudah ditangan. Lalu, kami ikutin semua proses pendaftaran online-nya, dan saat semua berhasil, Alhamdulillah akan ada notifikasi seperti contoh dibawah ini.

Contoh jika pendaftaran LPDP kita berhasil
















Kedua, nulis essay. Duh! Disini saya masih belum percaya diri bahwa saya bisa sekolah lagi dengan beasiswa. Entah, ya ini jeleknya saya, kadang merasa kurang dari teman2 yg lain dalam hal akademik. Bukan gak bersyukur, tapi saya merasa masih ‘nol’ banget lah untuk kompetisi begini. Dengan bermodalkan sedikit prestasi di bangku kuliah S1, niat karena-Nya (yg paling penting), dan semangat dari suami juga orang tua.. akhirnya saya dapat menulis esai 1 dan esai 2 yang disyaratkan oleh LPDP, hehe.

Ketiga, bahasa Inggris. Ditengah kesibukan mencari sesuap nasi dan sebongkah berlian (wkwkwk), saya lagi dan lagi “dipaksa” si Mas untuk mengusahakan TOEFL ITP, untuk keperluan pendaftaran LPDP. Tes pertama adalah iseng-iseng (Desember 2012) karena menemani (pada saat itu) calon suami tes ITP. Karena judulnya iseng-iseng, maka nilainya pun demikian, hanya 543 (kurang dari 550, standard persyaratan beasiswa LN). Maka, saat sudah kepepet, sekitar bulan Mei 2013, saya paksakan diri belajar dan Alhamdulillah score saya naik menjadi 557 (hahaha.. lebih 7 poin saja dari standard, gak apa yang penting lulus, coy! :-p)

My ITP score last time, not too bad 😉

Lalu, karena saat mendaftar LPDP, saya belum memiliki LoA (Letter of Acceptance), maka saya harus mencari LoA dengan berbagai cara2 yg halal pastinya, haha. Dan lagi2, peran suami saya disini sangat amat besar. Suami tahu betul bahwa mustahil buat saya untuk masuk kampus di Jerman dengan course yg diajar entirely in German, maka kami mencari Master program yg dalam bahasa Inggris. Namun, kami lagi2 terbentur masalah bahasa. Mereka kebanyakannya me-require TOEFL iBT atau IELTS (min. band 6.5, setiap component gak boleh kurang dari 6), dan saya belum memilikinya. Alhasil, saya “dipaksa” lagi untuk belajar yang akhirnya saya benar2 belajar *sampe guling2, dan nangis2 darah* (sendiri, intensive, gak pake kursus karena gak ada duit!) selama kurang lebih 3 bulan, saya berhasil tes dan lulus. Padahal target awal hanyalah sesuai dengan persyaratan kampus (band 6.5), tapi hasilnya lebih dari yang saya inginkan, hehe. Sempat minder karena saya gak les apa2 dan ini pengalaman ‘resmi’ yang pertama tes IELTS, langsung bisa band 7, Alhamdulillah..

Adakah teman2 yg seperjuangan dengan saya?? Ayo semangat!! IELTS bisa ditaklukan!!
Bersambung….

Sukses Terbesar Dalam Hidupku

Standard
Sebuah esai yang jauh dari sempurna, namun semoga dapat memberikan setitik pencerahan untuk teman-teman yang membutuhkan… 🙂


Sukses terbesar dalam hidupku adalah ketika aku dapat membuat orang tuaku tersenyum dan menangis bahagia melihatku berhasil dengan baik menyelesaikan program Sarjana Administrasi Bisnis (Bachelor of Business Administration) dalam kurun waktu 3.5 tahun di International Islamic University Malaysia. Sebagai anak bangsa Indonesia, aku berjuang keras untuk belajar dan bekerja selama menyelesaikan studi. Niatku lurus. Aku ingin melaksanakan kewajibanku sebagai hamba Tuhan, Allah SWT, sebaik-baiknya dalam menuntut ilmu dan membahagiakan orang tuaku selama nafasku masih dikandung badan. Niat itulah yang terus menerus aku pupuk.

Bagiku, sukses itu bukan perasaan bangga atau ingin menonjolkan diri. Namun sukses buatku adalah saat aku melakukan segala aktifitas dengan niatan ibadah dan mengimplementasikannya dengan cara-cara yang baik dan benar. Mungkin itu sederhana, tetapi banyak kenyataan disekitarku adalah jauh dari nilai-nilai tersebut. Banyak yang mengeyampingkan bahkan menghilangkan pentingnya hal tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Walaupun mungkin aku berasal dari keluarga sederhana dan biasa-biasa, tapi aku jauh dari hingar bingar gaya hidup pemuda pemudi di perkotaan dan aku ingin terus mendidik diri sendiri dan membawa nilai-nilai agamis dan akademis dimanapun dan kapanpun aku berada.

Hal ini yang terus menyemangatiku untuk dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang master. Aku ingin belajar dari para ilmuwan-ilmuwan hebat di negara yang ingin aku tuju, Jerman. Disanalah aku ingin belajar dan meniliti lebih dalam ilmu ekonomi konvensional, khususnya yang berkenaan dengan keuangan. Dengan bekal ilmu ekonomi islam (yang didapat selama menempuh program sarjana) dan konvensional, aku berharap kelak aku bisa menjadi pakar, ikut dalam kebijakan ekonomi pemerintahan, dan membawa perekonomian Indonesia menjadi jauh lebih baik dari sekarang. Aku menyadari, untuk mencapai kondisi demikian tidaklah mudah, disamping minimnya pengetahuan dan implementasi perekonomian islam yang kaffah di Indonesia. Namun, aku sangatlah yakin bahwa hasil penilitian dan studi masterku  nantinya akan sangat bermanfaat bagi orang banyak di negeriku.

Hal yang paling mendasar dari semua itu adalah menuntut ilmu adalah bagian dari ibadahku. Dengan ilmu yang baik, aku akan dapat memberikan kontribusi positif dan signifikan kepada lingkunganku, agama dan bangsaku. Sebagai umat Muhammad dan putri dari keluarga sederhana, aku bertekad menjadikan usia dan hidupku penuh kebaikan dengan ilmu yang bermanfaat agar bisa memberikan solusi-solusi terbaik untuk bangsa dan negaraku. Dan itulah arti sukses terbesar dalam hidupku, dapat memberikan sebesar-besarnya manfaat untuk sekelilingku.